Fenomena SEAblings dan Kelahiran Identitas Digital Pan-Asia Tenggara


Pada 30 Agustus 2025, seorang aktivis digital asal Thailand bernama Yammi mengunggah pesan sederhana di platform X: bahwa ternyata fitur pengiriman makanan lintas negara di aplikasi Grab memungkinkan siapa pun di Asia Tenggara mengirim makanan ke pengemudi ojol di Indonesia yang tengah berjuang di jalanan.
Unggahan itu meraih 73 juta tampilan. Dalam hitungan jam, ribuan orang dari Singapura, Malaysia, Filipina, dan Vietnam memesan nasi goreng, kopi, dan obat-obatan untuk orang-orang yang belum pernah mereka temui.
Mereka menyebut diri mereka SEAblings: saudara sebangsa Asia Tenggara.
Enam bulan kemudian, istilah yang sama muncul kembali dalam konteks yang sama sekali berbeda.
Kali ini, SEAblings adalah tagar perang: ribuan netizen Asia Tenggara bersatu melawan gelombang komentar rasis dari sebagian netizen Korea Selatan di media sosial.
Dari solidaritas makanan ke solidaritas martabat, perjalanan istilah ini menyimpan pelajaran penting tentang bagaimana identitas regional terbentuk di era digital.
Solidaritas Lintas Batas Asia Tenggara
Ada sesuatu yang secara kualitatif berbeda antara SEAblings dan gerakan solidaritas digital sebelumnya seperti Milk Tea Alliance (2020).
Milk Tea Alliance lahir dari kesamaan pengalaman otoritarianisme di Thailand, Hong Kong, Myanmar, dan Taiwan. Ikatannya bersifat politis dan simbolis.
SEAblings lahir dari sesuatu yang jauh lebih sederhana dan justru karena kesederhanaannya menjadi lebih kuat: tindakan mengirim makanan kepada orang asing.
Gerakan SEAblings menandai kelahiran sesuatu yang oleh Benedict Anderson mungkin akan disebut sebagai "imagined community" generasi baru: komunitas terbayangkan yang tidak lagi diikat oleh bahasa cetak dan kapitalisme media, melainkan oleh algoritma platform digital dan ekonomi berbagi.
Ketika seorang mahasiswa di Singapura memesan es teh untuk pengemudi ojol di Jakarta melalui Grab, ia melakukan sesuatu yang secara antropologis sangat bermakna.
Ia menciptakan hubungan resiprositas lintas batas tanpa mediasi negara, institusi formal, atau bahkan bahasa yang sama.
Perhatikan kontrasnya dengan ASEAN sebagai institusi. Selama hampir enam dekade, ASEAN telah berupaya membangun identitas regional melalui deklarasi, piagam, dan slogan "One Vision, One Identity, One Community."
Hasilnya, jujur saja, masih sangat terbatas di level akar rumput. Survei demi survei menunjukkan bahwa mayoritas warga Asia Tenggara memiliki ikatan identitas yang jauh lebih kuat terhadap negara masing-masing ketimbang terhadap kawasan.
Lalu datang SEAblings, gerakan tanpa struktur organisasi, tanpa deklarasi resmi, tanpa sekretariat, dan dalam beberapa hari berhasil melakukan apa yang gagal dilakukan ASEAN selama puluhan tahun: membuat jutaan anak muda merasa bahwa mereka adalah bagian dari keluarga besar yang sama.
Fase kedua SEAblings bermula dari sesuatu yang tampak sepele: seorang penggemar Korea membawa kamera besar ke konser DAY6 di Kuala Lumpur pada Januari 2026, mengganggu penonton lokal.
Konflik etika konser ini seharusnya berakhir dengan permintaan maaf (yang memang sudah disampaikan).
Namun, sebagian netizen Korea justru meresponsnya dengan serangan yang bersifat rasial: menghina penampilan fisik, warna kulit, dan kondisi ekonomi warga Asia Tenggara.
Salah satu momen yang paling melukai adalah ketika seorang netizen Korea mengejek video musik grup Indonesia No Na yang berlatar sawah, menyebutnya sebagai bukti kemiskinan dan keterbelakangan.
Dari perspektif kajian postkolonial, momen ini sangat penting untuk dibedah. Sawah, dalam diskursus kolonial, selalu menjadi simbol ganda: di satu sisi dieksotisasi sebagai keindahan tropis, di sisi lain digunakan sebagai penanda keterbelakangan.
Edward Said pasti akan mengenali pola ini. Ketika netizen Korea melihat sawah dan melihat kemiskinan, mereka sedang mengaktifkan hierarki rasial yang diinternalisasi dari Barat, fenomena yang oleh sosiolog Korea Park Kyung-tae disebut sebagai "rasisme ala Korea yang menempatkan diri di posisi mendekati kulit putih dalam hierarki global."
Yang menarik adalah respons SEAblings. Mereka tidak malu, tidak defensif, dan justru membalikkan narasi sepenuhnya.
Sawah dirayakan sebagai simbol kekayaan budaya, kedaulatan pangan, dan keindahan alam. Fakta bahwa beras Asia Tenggara justru diekspor ke Korea menjadi senjata retoris yang tajam.
Dalam bahasa James Scott, inilah yang terjadi ketika "senjata orang lemah" (weapons of the weak) berevolusi menjadi "senjata orang kreatif": humor, satire, dan pembalikan narasi yang membuat pihak agresor kehilangan pijakan moral.
Humor sebagai Infrastruktur Perlawanan
Ada satu observasi fundamental yang perlu dicatat oleh siapa pun yang mempelajari konflik digital kontemporer: netizen Korea memperlakukan perang ini dengan serius dan penuh amarah, sementara SEAblings menjadikannya festival komedi.
Asimetri emosional ini bukan kebetulan. Ia mencerminkan perbedaan ekosistem budaya internet yang sangat mendasar.
Netizen Indonesia merespons komentar berbahasa Korea dengan Bahasa Jawa, aksara Lontara, bahkan kode Morse dan "Bahasa Alay" yang membuat mesin penerjemah otomatis tidak berdaya.
Netizen Malaysia menyatakan bahwa hinaan dari Korea "terlalu lemah" dibanding perdebatan biasa mereka dengan Indonesia (sebuah pujian terselubung yang sangat Asia Tenggara).
Netizen Filipina mengingatkan bahwa menyerang satu negara Asia Tenggara berarti menghadapi seluruh kawasan sekaligus.
Fenomena ini mengingatkan pada konsep "hidden transcript" dari James Scott, tapi dengan modifikasi penting.
Dalam teori Scott, kelompok subordinat menyembunyikan perlawanan mereka di balik sikap patuh. Dalam konteks SEAblings, perlawanan justru dilakukan secara terbuka, terang-terangan, dan dengan tawa.
Kekuatan mereka terletak justru pada keterbukaan itu: ketika Anda mengejek seseorang dan mereka tertawa lebih keras dari Anda, Anda telah kalah sebelum pertempuran dimulai.
Secara akademis yang paling menarik adalah bagaimana konflik ini menciptakan apa yang disebut sebagai "kohesi melalui kontras."
Indonesia dan Malaysia, dua negara yang biasa saling klaim rendang dan batik, mendadak bersatu padu.
Filipina, yang memiliki hubungan kompleksnya sendiri dengan Hallyu sejak insiden #CancelKorea 2020, langsung bergabung.
Thailand, Vietnam, bahkan netizen India dan Pakistan turut serta. Identitas SEAblings mengkristal bukan karena kesamaan internal (yang memang sangat beragam), melainkan karena adanya "common other" yang mempersatukan.
Bagi kita yang mendalami studi Asia Tenggara, fenomena SEAblings mengajukan pertanyaan yang menantang. Apakah identitas regional ASEAN yang selama ini gagal dibangun dari atas melalui mekanisme formal ternyata sedang tumbuh dengan cara yang sama sekali berbeda di ruang digital?
Apakah solidaritas yang lahir dari pengiriman nasi goreng lintas batas dan perang meme melawan rasisme memiliki substansi politik yang nyata, atau ia hanya efemeral seperti tren media sosial lainnya?
Saya condong pada posisi bahwa fenomena ini memiliki implikasi yang lebih dalam dari yang tampak di permukaan.
Pertama, SEAblings menunjukkan bahwa infrastruktur digital telah menciptakan prasyarat material untuk solidaritas transnasional di Asia Tenggara.
Aplikasi seperti Grab dan Gojek, yang beroperasi lintas batas negara ASEAN, secara tidak sengaja menjadi infrastruktur solidaritas. Ini sesuatu yang belum sepenuhnya diantisipasi oleh teori integrasi regional manapun.
Kedua, SEAblings mengonfirmasi bahwa kaum muda Asia Tenggara telah menemukan bahasa bersama yang melampaui bahasa nasional masing-masing: kombinasi bahasa Inggris internet, meme, dan humor visual yang dipahami secara lintas budaya.
Ini adalah lingua franca generasi baru yang tidak diajarkan di sekolah manapun, tetapi fasih digunakan oleh jutaan orang.
Ketiga, dan ini yang paling provokatif: SEAblings mungkin sedang menunjukkan bahwa model identitas regional yang dibangun melalui "other-ing" (pembedaan terhadap pihak luar) lebih efektif secara emosional ketimbang model yang dibangun melalui kesamaan normatif internal ala ASEAN Way.
Tentu saja ini membawa risikonya sendiri. Identitas yang didefinisikan melalui oposisi cenderung rapuh ketika musuh bersama menghilang. Namun, ia juga bisa menjadi benih bagi sesuatu yang lebih permanen jika dikelola dengan bijak.
Siapa yang Butuh ASEAN Way?
Ada ironi yang indah dalam semua ini. Selama puluhan tahun, para diplomat dan akademisi telah berdebat tentang bagaimana membangun "ASEAN Community" yang bermakna.
Miliaran dolar dihabiskan untuk program pertukaran budaya, konferensi regionalisme, dan deklarasi bersama.
Lalu datang sekelompok anak muda yang bahkan mungkin tidak tahu apa itu ASEAN Charter, dengan senjata berupa smartphone dan selera humor yang tajam, menciptakan momen persatuan regional paling autentik dalam sejarah Asia Tenggara kontemporer.
Tentu saja, kita perlu bersikap kritis. Solidaritas digital bisa cepat menguap. Perang meme bisa berubah menjadi xenofobia yang sama dengan apa yang mereka lawan.
Beberapa referensi SEAblings terhadap tingkat bunuh diri Korea, misalnya, melampaui batas humor dan masuk ke wilayah yang tidak bisa dibenarkan.
Gerakan tanpa struktur rentan dibajak oleh aktor-aktor yang memiliki agenda berbeda, termasuk akun bot dan engagement farmer yang mengeksploitasi viralitas untuk keuntungan.
Namun, mengabaikan fenomena ini sebagai sekadar keributan internet adalah kesalahan analitis.
Ketika jutaan orang secara spontan mengidentifikasi diri sebagai bagian dari keluarga Asia Tenggara dan bertindak berdasarkan identifikasi itu, sesuatu yang riil sedang terjadi.
Dan bagi kita yang selama ini bertanya-tanya apakah "ASEAN identity" itu nyata atau hanya retorika diplomatik, SEAblings memberikan jawaban yang mengejutkan: identitas itu nyata, tetapi ia tumbuh dari bawah, dengan cara yang tidak pernah dibayangkan oleh para arsitek regionalisme formal.
Sawah yang dihina oleh netizen Korea telah berubah menjadi benteng. Dan benteng itu lebih kokoh dari gedung Sekretariat ASEAN di Jakarta.
Sumber: https://www.kompas.com/global/read/2026/02/21/083130570/fenomena-seablings-dan-kelahiran-identitas-digital-pan-asia-tenggara?page=all#page2.
Penulis : Arif Darmawan
Editor : Sandro Gatra