Politics and International Relations

Ironi Piala Dunia 2026, Sepak Bola Tak Butuh Paspor

Penulis
OlehArif Darmawan
Ironi Piala Dunia 2026, Sepak Bola Tak Butuh Paspor

BABAK 32 besar sudah bergulir. Di layar sekitar enam miliar manusia, angka yang membuat Olimpiade pun tampak seperti turnamen kampung—bola menggelinding sebagai salah satu dari sedikit bahasa universal yang masih kita sepakati bersama.

FIFA, dengan kepercayaan diri seorang penjual yang yakin barangnya laku, memajang slogan abadi mereka: Football Unites the World.

Sepak bola menyatukan dunia. Untuk satu bulan penuh, klaim itu terasa nyaris benar. Persoalannya, jika kita bertanya “siapa sebenarnya yang menyatukan dunia di lapangan itu?”.

Mesin penggerak pesta ini adalah migrasi. Dari 1.248 pemain yang dibawa 48 tim, hampir 300—nyaris satu dari empat—lahir di negara yang berbeda dari bendera yang mereka kenakan. Ini bukan anomali statistik; ini arsitektur turnamennya.

Ambil contoh Perancis yang paling terlihat. Banlieue Paris sudah lama berfungsi sebagai pabrik bakat global: anak-anak imigran dari Aljazair, Senegal, Kamerun, hingga Mali tumbuh di akademi-akademi yang sama.

Hasilnya menakjubkan. Sekitar seratus pemain kelahiran Prancis tampil di Piala Dunia ini, tetapi hanya sekitar 23 yang berkostum Les Bleus.

Sisanya, kira-kira 76 orang, justru membela negara lain: Aljazair, Haiti, Republik Demokratik Kongo, Senegal, Pantai Gading.

Maroko bahkan melangkah lebih jauh, dengan 19 dari 26 pemainnya lahir di luar negeri, mayoritas dibesarkan di Perancis dan Spanyol.

Dan ada Curaçao—negara berpenduduk sekitar 156 ribu jiwa, terkecil yang pernah lolos—yang skuadnya hampir seluruhnya lahir di Belanda, warisan empat abad kolonialisme.

Kylian Mbappé sendiri, ikon Perancis itu, adalah putra Bondy: ayah dari Kamerun, ibu dari Aljazair.

Benedict Anderson mengajari kita bahwa bangsa adalah ‘imagined community’, komunitas yang dibayangkan, bukan diberikan oleh alam.

Tim nasional adalah salah satu ritual paling kuat di mana sebuah bangsa membayangkan dirinya sendiri: sebelas tubuh di lapangan dijadikan personifikasi "kita".

Tetapi tubuh-tubuh itu, di Piala Dunia 2026, sebagian besar adalah produk perpindahan lintas batas.

Tim "nasional" ternyata adalah artefak transnasional. Bangsa yang sedang membayangkan dirinya, diam-diam membayangkan dirinya melalui orang-orang yang—atau yang orang tuanya—pernah melewati garis perbatasan yang sama yang kini dijaga ketat.

Inilah yang oleh para teoretikus globalisasi disebut bangsa yang terdeteritorialisasi: identitas nasional yang ternyata dirakit dari bahan baku global.

Dan, meminjam Joseph Nye, inilah soft power dalam wujud paling murni, daya pikat sebuah negara yang justru dibangun di atas keringat dan kaki para migran. Lalu datang ironinya, dan ironi ini berlapis seperti bawang.

Lapis Pertama: Tuan Rumahnya

Tiga perempat pertandingan digelar di Amerika Serikat, persis pada momen ketika negeri itu sedang paling bersemangat menutup pintunya.

Pemerintahan Donald Trump memberlakukan larangan perjalanan terhadap warga 39 negara; empat di antaranya adalah peserta Piala Dunia (Haiti dan Iran kena larangan penuh, Senegal dan Pantai Gading sebagian).

Suporter dari negara-negara itu, banyak yang sudah memegang tiket dan memesan hotel, tidak diperbolehkan masuk.

Seorang wasit asal Somalia ditolak masuk meski visanya sah; bintang Irak, Aymen Hussein, ditahan dan diinterogasi tujuh jam di Bandara O'Hare. Akademisi Jules Boykoff menyebutnya tepat: bukan Piala Dunia inklusi, melainkan eksklusi.

Dari kacamata HI, ini adalah contoh telanjang dari apa yang Mazhab Kopenhagen sebut securitization. Migrasi—fenomena ekonomi dan kemanusiaan yang biasa—dibingkai ulang sebagai ancaman keamanan nasional, lengkap dengan kosakata "vetting", "national security", dan "border".

Begitu sebuah isu di-sekuritisasi, ia keluar dari ranah politik normal dan masuk ke ranah darurat, tempat penutupan pintu menjadi sah secara moral.

Maka jadilah paradoks yang nyaris terlalu rapi untuk jadi kebetulan: negara mengamankan diri dari kategori manusia yang persis sama dengan kategori yang ia sorak-soraki di lapangan. Imigran yang mencetak gol adalah pahlawan; imigran yang mengantre di imigrasi adalah ancaman. Bedanya hanya seragam.

Lapis kedua—dan di sini kita harus jujur—FIFA bukan malaikat dalam dongeng ini. Slogan Football Unites the World itu pertama-tama adalah produk dagang, bukan ikrar moral.

Presiden FIFA Gianni Infantino menjalin kedekatan mencolok dengan Trump, bahkan menganugerahinya "FIFA Peace Prize", lalu—saat ironi mulai merusak citra turnamen—dilaporkan justru memohon moratorium razia ICE selama sebulan pesta berlangsung.

Persatuan, di tangan FIFA, adalah komoditas yang bisa dinyalakan untuk kamera dan dimatikan saat berhadapan dengan tuan rumah yang berkuasa. Inilah sportswashing dalam bentuk paling jernih: olahraga dipakai untuk menyemir, sembari aktor utamanya berpelukan dengan sang penjaga gerbang.

Lapis ketiga adalah yang paling tidak nyaman, dan paling penting untuk tidak diromantisasi. Narasi "keberagaman" punya sisi gelap yang jarang diakui para pemujanya. Para bintang diaspora ini dirayakan sebagai "kita" hanya saat menang.

Saat kalah, status mereka tiba-tiba dipertanyakan. Pada 1998, ketika skuad Black-Blanc-Beur mengangkat trofi, Jean-Marie Le Pen menolak menyebut mereka "Perancis sejati". Pada 2022, setelah final, Aurélien Tchouaméni dan Kingsley Coman yang gagal penalti dihujani pelecehan rasial.

Pesan tak terucapnya brutal dalam kesederhanaannya: keanggotaan dalam bangsa bersifat bersyarat, dipinjamkan saat berprestasi, dicabut saat mengecewakan.

Maka lapangan hijau itu, secara bersamaan, memperlihatkan dua hal: kekayaan keberagaman dan batas-batas penerimaan yang membungkusnya. Ia cermin, sekaligus borgol.

Dan jangan keburu menunjuk Amerika Serikat sebagai satu-satunya terdakwa. Kontradiksi ini bukan milik satu negara; ini adalah penyakit bawaan negara-bangsa modern di dunia yang sudah terlanjur global.

Hampir setiap bangsa menari di atas paradoks yang sama—menikmati buah migrasi (tenaga kerja, bakat, remitansi, gengsi olahraga) sambil mendemonisasi migran sebagai sumber masalah. Amerika 2026 hanya kebetulan menyediakan panggung paling terang-benderang, karena ia memegang dua peran sekaligus: tuan rumah pesta global *dan* penjaga gerbang paling galak.

Maka, apa yang sebenarnya sedang kita tonton di Piala Dunia ini? Bukan sekadar pertandingan bola. Kita sedang menonton sebuah eksperimen sosial raksasa yang menelanjangi kebohongan kecil yang dipercaya banyak negara: bahwa "bangsa" adalah sesuatu yang murni, tertutup, dan bisa dijaga dengan tembok.

Sepak bola membantah itu setiap sembilan puluh menit. Bola tidak pernah meminta paspor sebelum masuk gawang. Ia tidak peduli di kota mana ayahmu lahir, atau perahu mana yang dinaiki nenekmu.

Pada akhirnya, inilah gambar yang akan dikenang dari turnamen ini, bukan trofi yang diangkat di Juli nanti, melainkan absurditas yang mendahuluinya.

Sebuah negara yang sibuk membangun tembok, untuk satu bulan, bersorak sekencang-kencangnya bagi anak-anak dari orang-orang yang dulu memanjatnya. Dunia memang menyatu lewat sepak bola. Sayangnya, ia kerap menyatu hanya selama peluit belum ditiup panjang.

Sumber: https://bola.kompas.com/read/2026/06/30/08570018/ironi-piala-dunia-2026-sepak-bola-tak-butuh-paspor-?page=all#page2.

Penulis : Arif Darmawan
Editor : Ferril Dennys