Menguatkan Kerja Sama Regional: Diplomasi Xi Jinping, Tanggapan Tiga Negara dan Dampaknya bagi Asia Tenggara



Kunjungan Presiden Tiongkok, Xi Jinping pada April 2025 adalah lawatan luar negeri pertamanya di tahun ini, yaitu ke Vietnam, Malaysia, dan Kamboja. Hal ini sangat strategis mengingat ketegangan perang dagang global antara Tiongkok dan Amerika Serikat. Xi Jinping memulai kunjungannya ke Vietnam dari tanggal 14 - 15 April 2025. Lawatan ini terjadi saat ketegangan perang dagang meningkat, di mana AS baru saja mengenakan tarif tinggi terhadap produk Vietnam dan Tiongkok. Ketika berkunjung, Xi Jinping menekankan betapa pentingnya meningkatkan hubungan antara dua negara, mempertahankan sistem perdagangan multilateral, menjaga rantai industri global yang stabil, dan menentang proteksionisme karena tidak memiliki dampak positif, terutama di tengah meningkatnya tarif dari Amerika Serikat terhadap kedua negara. Selain itu, ia menekankan betapa pentingnya stabilitas regional dan penyelesaian konflik secara damai, termasuk masalah maritim di Laut Cina Selatan. Kunjungannya ke Vietnam juga merayakan 75 tahun hubungan diplomatik kedua negara, yang menegaskan posisi Vietnam sebagai mitra utama Tiongkok di wilayah tersebut di tengah diplomasi adaptif Vietnam yang disebut "diplomasi bambu". Kedua negara memiliki hubungan ekonomi yang erat untuk menjaga stabilitas situasi internasional dan regional.
Pada 16 April 2025, Xi Jinping pergi ke Malaysia setelah dari Vietnam. Ia bertemu dengan Perdana Menteri Anwar Ibrahim dan Raja Sultan Ibrahim yang menyambutnya dengan upacara kenegaraan. Memperkuat kerja sama strategis dan ekonomi, termasuk perjanjian di bidang teknologi, AI, media, dan pariwisata adalah fokus utama kunjungan ini. Selain itu, Xi Jinping menegaskan bahwa Tiongkok adalah mitra yang lebih terpercaya daripada AS, khususnya dalam konteks kebijakan tarif proteksionis Washington. Menurutnya, dengan Malaysia sebagai ketua ASEAN saat ini, dapat memberikan peluang bagi Tiongkok untuk meningkatkan solidaritas kerja sama regional dan menonjolkan pengaruhnya di Asia Tenggara. Untuk menutup perjalanannya, pada 17 - 18 April 2025 Xi Jinping berkunjung ke Kamboja, kunjungannya ke Kamboja sudah dimulai sejak 2016. Saat Xi Jinping ke Phnom Penh, ia menegaskan status Kamboja sebagai "sekutu besi" Tiongkok di Asia Tenggara. Ia disambut oleh Raja Norodom Sihamoni dan bertemu dengan Perdana Menteri Hun Manet, serta Presiden Senat Hun Sen. Di tengah ketegangan tarif tinggi dari AS, tujuan pembicaraan kunjungan ini adalah penguatan hubungan bilateral, investasi, dan kerja sama ekonomi. Xi Jinping menekankan bahwa Tiongkok berkomitmen membantu Kamboja mencapai otonomi strategis, melawan proteksionisme di tingkat global, dan memperkokoh struktur perdagangan internasional multilateral.
Jauh sebelum adanya kunjungan Xi Jinping ke Vietnam pada April 2025 lalu. Tiongkok dan Vietnam sudah memiliki hubungan yang sangat kompleks, terbentuk dari sejarah panjang invasi, pendudukan tiongkok, kedekatan geografis, ketergantungan ekonomi, afinitas ideologi politik, dan sengketa maritim di Laut Cina Selatan. Adanya dinamika yang tidak seimbang dari kedua negara tersebut juga pernah membuat ketegangan di masa lalu karena kekuatan Tiongkok yang lebih besar. Tiongkok dan Vietnam telah menjalin hubungan diplomatik sejak tahun 1950. Namun, hubungan ini pernah mengalami kemerosotan di tahun 1979 akibat dari perang perbatasan. Kemudian, pada tahun 1991 hubungan bilateral keduanya kembali membaik dan di tahun 2008 terbentuklah kemitraan kerja sama strategis komprehensif yang diperkuat bersama lima tahun kedepan untuk memperluas isu - isu di tingkat internasional dan regional. Vietnam menerapkan prinsip “Tiga Larangan” dalam kebijakan pertahanannya, yaitu tidak beraliansi militer, tidak mengizinkan pangkalan militer asing, dan tidak bergantung pada satu negara untuk melawan negara lain. Prinsip ini menjaga ruang gerak Vietnam agar tidak terlalu dekat atau terlalu jauh dari Tiongkok.
Saat agenda kunjungannya ke Vietnam, kedua negara tersebut berhasil memperkuat hubungan bilateral dengan para pemimpin tertinggi Vietnam, membahas kerja sama pembangunan jalur kereta api lintas negara dan perluasan akses ekspor produk pertanian Vietnam ke pasar Tiongkok, memperdalam kemitraan strategis dengan melakukan penandatanganan 45 perjanjian (termasuk perdagangan, infrastruktur perkeretaapian, penerbangan, sains teknologi, rantai produksi dan pasokan, serta ekonomi hijau), dan menekankan penguatan hubungan partai ke partai antara Partai Komunis Tiongkok dan Partai Komunis Vietnam untuk menegaskan kedekatan ideologis dan strategis kedua negara.
Serupa dengan Vietnam, Malaysia dan Tiongkok memiliki hubungan diplomatik yang erat sejak 1974, Tiongkok juga telah menjadi mitra dagang terbesar Malaysia selama 16 tahun berturut-turut sejak 2009. Kerja sama kedua negara sangat luas, meliputi perdagangan, investasi, infrastruktur, teknologi, dan pariwisata. Malaysia juga menjadi salah satu tujuan utama investasi Tiongkok di Asia Tenggara, misalnya melalui pengembangan kawasan Forest City di Johor. Namun, hubungan ini tidak sepenuhnya tanpa ketegangan. Isu utama yang kerap memicu perseteruan adalah klaim tumpang tindih di Laut Cina Selatan, di mana kapal-kapal Tiongkok beberapa kali memasuki zona ekonomi eksklusif Malaysia. Meski demikian, kedua negara tetap memilih untuk memperkuat kerja sama regional dan melakukan kerja sama multilateral, menyelesaikan perbedaan yang ada, serta menegaskan pentingnya stabilitas dan perdamaian kawasan.
Dengan fokus pada empat bidang utama, yakni ekonomi digital, ekonomi hijau, ekonomi biru, dan ekonomi pariwisata. Beranjak dari hal tersebut, Tiongkok dan Malaysia sepakat untuk membangun komunitas strategis tingkat tinggi dengan masa depan bersama guna mempercepat upaya modernisasi kedua negara dan secara bersama-sama mendorong kemakmuran. Kesepakatan tersebut dinyatakan dalam “Pernyataan Bersama Republik Rakyat Tiongkok dan Malaysia tentang Pembangunan Komunitas Strategis Malaysia - Tiongkok Tingkat Tinggi dengan Masa Depan Bersama”.
Kedatangan Xi Jinping ke Malaysia sangat disambut baik oleh kenegaraan di Istana Negara oleh Raja Sultan Ibrahim, dilanjutkan dengan pertemuan bersama Perdana Menteri Anwar Ibrahim untuk membahas penguatan kerja sama ekonomi, investasi, teknologi, dan isu - isu internasional. Dari pertemuan ini, kedua negara tersebut melakukan penandatanganan 31 perjanjian di berbagai sektor seperti keamanan global, perdagangan, urusan luar negeri dan pertahanan, perkeretaapian, pertanian dan ketahanan pangan, teknologi, pariwisata, pendidikan, dan infrastruktur.
Berakar dari sejarah panjang terjalinnya hubungan diplomatik antara Kamboja dan Tiongkok sejak Juli 1958, persahabatan kedua negara ini telah terjalin sangat erat. Berbagai pertukaran program melalui kerja sama bilateral di kedua negara ini mencakup bidang politik, ekonomi, budaya, pendidikan, dan bidang-bidang lain yang didasari oleh kepercayaan dan upaya bersama dalam menjalin kerja sama yang menguntungkan membuat persahabatan dan solidaritas Kamboja - Tiongkok semakin erat. Diikuti dengan Kamboja yang konsisten mendukung prinsip satu Tiongkok dan mengakui komitmen teguh Tiongkok dalam mempromosikan perdamaian global, menunjukan model yang sehat dalam hubungan bilateral yang dilakukan dan sebagai upaya bersama untuk mendorong pembangunan dalam negeri mereka.
Sejak melakukan kunjungan pertamanya ke Kamboja pada tahun 2016, perkembangan kemitraan di antara keduanya sudah berkembang sangat pesat. Disusul pada tahun 2023, Tiongkok-Kamboja berkomitmen dalam memajukan hubungan bilateral dengan standar dan kualitas yang tinggi. Setelah kurang lebih sembilan tahun, Xi Jinping melakukan kunjungan kenegaraan kembali ke Kamboja sebagai agenda terakhirnya setelah mengunjungi Vietnam dan Malaysia. Selama di Kamboja, Phnom Penh, Xi Jinping melakukan pertemuan dengan Raja Norodom Sihamoni, PM Hun Manet, dan Presiden Senat Hun Sen (Ayah dari Hun Manet). Pertemuan ini menghasilkan beberapa hasil kerja sama diantara keduanya seperti, penandatangan 37 dokumen kerjasama mencakup investasi, perdagangan, pendidikan, keuangan, pariwisata, kesehatan, dan bidang-bidang lainnya. Dalam bidang militer, Tiongkok meningkatkan bantuan dana untuk perluasan Pangkalan Laut Ream di pantai selatan Kamboja. Meskipun hal ini menuai kekhawatiran sebagian besar negara bahwa pangkalan ini dianggap akan digunakan oleh militer Tiongkok, namun hal tersebut berulang kali dibantah oleh Kamboja dengan menyatakan tidak akan ada pemberian hak istimewa pada Tiongkok.
Respon yang diberikan Kamboja atas kunjungan Xi Jinping tentu sangat positif. Kamboja melihat persahabatan dengan Tiongkok yang berkelanjutan memberikan manfaat yang signifikan dalam berbagai bidang. Kamboja tetap mempertahankan komitmennya untuk mengupayakan kerjasama yang saling menguntungkan untuk meningkatkan pembangunan dan kesejahteraan rakyat untuk mencapai kepentingan nasionalnya. Hubungan yang semakin erat ini dimanfaatkan untuk terus menciptakan atmosfer yang baik diantara keduanya di tengah kondisi geopolitik global yang tidak pasti dan perang dagang yang semakin meningkat.
Kunjungan kenegaraan yang dilakukan oleh Xi Jinping ke tiga negara ASEAN yaitu Vietnam, Malaysia, dan Kamboja memberikan dampak signifikan terhadap dinamika regional Asia Tenggara. Kondisi dunia yang dipenuhi dengan ketidakpastian ditambah peningkatan ketegangan global akibat kebijakan proteksionis Amerika Serikat, Tiongkok memanfaatkan momen ini untuk memperkuat posisinya sebagai mitra strategis utama di kawasan. Melalui kunjungan ini, Xi Jinping menegaskan kembali komitmennya terhadap posisi dan mitra sentral di kawasan tersebut. Xi Jinping hadir sebagai ‘penawar’ dari ketidakpastian global untuk menciptakan stabilitas bagi kawasan tersebut melalui kerja sama berbagai bidang dan penguatan rantai pasokan industri.
Di Vietnam, hubungan kedua negara semakin erat yang menghasilkan penandatangan 45 perjanjian kerja sama dalam berbagai bidang termasuk bidang teknologi, infrastruktur, perdagangan, dan lain sebagainya. Hubungan bilateral yang sudah terjalin sejak lama ini memberikan dampak yang signifikan terhadap pertumbuhan di Vietnam dengan Tiongkok sebagai investor terbesar mencapai $4,73 miliar pada tahun 2024. Selain itu, kerja sama yang dilakukan juga memberikan dampak positif pada perkembangan ekonomi dan masyarakat Vietnam. Melalui pengembangan berkelanjutan kereta api dan pelabuhan, panel surya dan pengolahan limbah menjadi energi, pengembangan transportasi umum, dan lain sebagainya menunjukan bahwa komitmen keduanya sangat kuat untuk menciptakan kemakmuran regional dan komitmen terhadap perdamaian global.
Tidak jauh berbeda dengan Vietnam, Kunjungan Xi Jinping ke Malaysia juga disambut baik yang menghasilkan 31 nota kesepahaman antara kedua negara, meliputi pertukaran media, inisiatif pembangunan dan keamanan global, pembebasan visa bersama, AI, infrastruktur, dan berbagai sektor lainnya. Selain itu, melalui agenda ambisi Malaysia yang ingin mencapai teknologi hijau dan transformasi digital, Tiongkok sangat mendukung penuh agenda Malaysia tersebut. Kerja sama yang dijalin sejak lama ini telah memberikan dampak yang positif dan manfaat yang besar bagi masyarakat Malaysia.
Terakhir, kunjungan yang dilakukan di Kamboja oleh Xi Jinping sebagai penutup agenda kenegaraan yang dilakukannya. Kedekatan hubungan diantara keduanya menghasilkan penandatanganan 37 perjanjian dalam berbagai sektor. Melalui kerja sama ini, Kamboja telah menciptakan banyak lapangan pekerjaan bagi rakyatnya, perkembangan ekonomi, infrastruktur, pariwisata, dll yang memberikan dampak signifikan pada stabilitas di negara ini. Meskipun demikian, beberapa proyek besar seperti perluasan Pangkalat Laut Ream telah menimbulkan kekhawatiran dikalangan negara kawasan ASEAN yang ditakutkan akan meningkatkan pengaruh militer Tiongkok di kawasan tersebut.
Secara keseluruhan, kunjungan yang dilakukan Xi Jinping pada April 2025 menunjukan upaya dan komitmen Tiongkok untuk memperkuat pengaruh dan dominasinya di Asia Tenggara di tengah ketidakpastian global dan perang dagang yang terjadi. Melalui penandatanganan perjanjian dalam berbagai sektor di Vietnam, Malaysia, dan Kamboja, Xi Jinping berusaha menghadirkan kepastian dan stabilitas bagi kawasan dengan meningkatkan hubungan bilateral dan persahabatan yang kuat diantara negara-negara tersebut yang menghasilkan kerja sama yang saling menguntungkan.
Referensi :
Admin. (n.d.). Joint statement by the People’s Republic of China and the Kingdom of Cambodia on the framework of their bilateral cooperation. https://www.mfa.gov.cn/mfa_eng/zy/gb/202405/t20240531_11367088.html
Anwar, Laraswati Ariadne, ‘Welcoming Xi Jinping, Vietnam’s “Bamboo Diplomacy”’, Kompas.Id, 2025, https://www.kompas.id/artikel/en-di-tengah-perang-dagang-xi-ke-vietnam [accessed 17 May 2025]
Chew, Amy, ‘Xi Arrives in Malaysia with a Message: China’s a Better Partner than Trump’, Aljazeera.Com, 2025, https://www.aljazeera.com/news/2025/4/16/xi-arrives-in-malaysia-with-a-message-chinas-a-better-partner-than-trump [accessed 17 May 2025]
Guarascio, Francesco, Khanh Vu and Phuong Nguyen, ‘China, Vietnam Sign Deals as Xi Visits Hanoi amid US Tariff Tensions’, Reuters.Com, 2025, https://www.reuters.com/world/asia-pacific/chinas-xi-meet-vietnam-leaders-kick-off-southeast-asia-tour-amid-us-tariffs-2025-04-14/ [accessed 17 May 2025]
Leahy, J. (2025, May 6). China’s diplomatic charm offensive. Financial Times. https://www.ft.com/content/1f83c330-9e00-4935-b069-90341e13392a
Peck, G., & Cheang, S. (2025, April 17). China’s leader Xi Jinping holds talks in Cambodia to wrap up his 3-nation Southeast Asia tour | AP News. AP News. https://apnews.com/article/xi-jinping-hun-manet-ream-naval-base-cambodia-china-f477b79fd3bb2a08455e95b66acff53c
Planasari, Sita, ‘Presiden Xi Jinping Ke ASEAN, Diawali Dengan Vietnam’, Tempo.Co, 2025, https://www.tempo.co/internasional/presiden-xi-jinping-ke-asean-diawali-dengan-vietnam-1231401 [accessed 17 May 2025]
Press, The Associated, ‘China’s Xi Jinping Arrives in Cambodia to Wrap up 3-Nation Southeast Asia Tour’, Wusf.Org, 2025 https://www.wusf.org/2025-04-17/chinas-xi-jinping-arrives-in-cambodia-to-wrap-up-3-nation-southeast-asia-tour [accessed 17 May 2025]
Setyorini, Virna P, ‘Malaysia, China Yakini Terus Perkuat Kerja Sama’, Antaranews.Com, 2025, https://www.antaranews.com/berita/4776353/malaysia-china-yakini-terus-perkuat-kerja-sama [accessed 17 May 2025]
Thu, Huong Le, ‘Hubungan Vietnam–Tiongkok’, Ipdefenseforum, 2018, https://ipdefenseforum.com/id/2018/07/hubungan-vietnam-tiongkok/ [accessed 17 May 2025]
Times, G. (n.d.). China-Cambodia ties deepen under ironclad friendship. Copyright 2021 by the Global Times. https://www.globaltimes.cn/page/202504/1332479.shtml
W, Bobby, ‘Agenda Kunjungan Xi Jinping Di Malaysia Hari Ini, Anwar Ibrahim Siapkan Jamuan Makan Malam’, Tribunnews, 2025, https://www.tribunnews.com/internasional/2025/04/16/agenda-kunjungan-xi-jinping-di-malaysia-hari-ini-anwar-ibrahim-siapkan-jamuan-makan-malam [accessed 17 May 2025]
Xinhua, ‘China Dan Malaysia Sepakat Bangun Komunitas Strategis Tingkat Tinggi’, Antaranews, 2025, https://www.antaranews.com/berita/4777717/china-dan-malaysia-sepakat-bangun-komunitas-strategis-tingkat-tinggi [accessed 17 May 2025]
焦元. (n.d.). President Xi’s Southeast Asia visit offers long-term vision for regional stability_China’s Diplomacy in the New Era. https://en.chinadiplomacy.org.cn/2025-04/25/content_117844401.shtml